Selasa, 15 Januari 2013

Pamanku Memberiku Kenikmatan Ngentot

http://media4.wartanews.com/contents/media/berita/abg_jablay.jpg


Martina. Itulah namaku, aku adalah seorang mahasiswi yang sedang kuliah di salah satu Universitas Negeri di kota ini. Saat ini aku sedang berusaha menyelesaikan Tugas Akhirku, yang sudah lumayan lama tak kunjung usai. Entah kenapa, rasanya malas sekali untuk aku menyelesaikannya. Mungkin karena kesibukanku bekerja. Atau.. memang aku sudah tak sepenuh hati lagi mengejar titel akademisku. Tapi toh sebenarnya sayang sekali, ini hanya tinggal Tugas Akhir.

Untuk diketahui, saat ini umurku 23 Tahun.. dan dua bulan lagi, satu tahun bertambah umurku. secara fisik aku cukup lumayan. Dengan face yang agak oriental sekilas mirip artis Nia Ramadani (kata beberapa temanku), Kulitku putih, bodykupun.. emm, bila aku gambarkan, setiap aku berjalan di kampusku, bisa dipastikan, hampir semua mata cowok-cowok mahasiswa tak sekejappun lepas menatapku nakal.. seakan-akan hendak menelanjangiku. Sebenarnya sangat aku maklumi, mungkin, ditopang dengan spek 171 cm berbanding 59 kg, membuat aku terlihat wow di mata mereka. Apalagi dadaku cukup sesak untuk ditopang dengan bra 36C serta kombinasi pinggul yang besar, bulat, dan kencang dipadu perutku yang rata hasil latihan aerobikku yang rutin kulakukan setiap selasa dan sabtu. Sekali lagi, tak aneh rasanya.. mereka selalu menahan liurnya menetes saat melihatku.

Penampilanku bila aku datang ke kampus sebenarnya tak terlalu spesial. Aku selalu berpakaian casual n sporty. Yaa, asalkan nyaman saja buatku. Hanya mungkin sesekali, aku agak berpenampilan ‘lebih manis’ bila aku sedang mood atau sedang ada acara di kampusku. Rambut hitam layer sepunggungku-pun sengaja hanya aku biarkan saja bergerai bebas, tapi mungkin bagi sebagian orang, itu justru membuat aku tambah terliat seksi dan menggemaskan.

Aku berasal dari P*nt*a*ak Kalimantan Barat. Mungkin karena inilah, kata orang wajahku sedikit terlihat oriental. Karena memang sebagian besar wanita di daerah asalku berparas seperti itu, dan aku pun tak tahu mengapa. Semenjak lulus SMU aku putuskan untuk tinggal di kota B ini. Karena kebetulan ada kerabat keluarga kami yang menetap disini. Singkatnya, pada awal aku disini, aku tinggal bersama mereka. Namun karena suatu hal. Akupun memutuskan untuk.. pergi!!. 

Dan kini aku tinggal di tempat kostku yang cukup nyaman di daerah dekat pusat kota. Berbekal uang hasilku bekerja sebagai pemandu karaoke di Kota C yang berjarak sekitar 15 km dari tempat tinggalku. Aku beranikan diri untuk hidup mandiri. Penghasilanku sebagai pemandu karaoke sebenarnya cukup lumayan untuk menghidupi diriku sendiri dan sekedar untuk berbelanja “ala kewanitaan”. Namun, hari-hari awal aku bekerja adalah hari dimana aku harus menyesuaikan diri dan bertahan dari godaan para tamu yang datang dan minta kutemani. Namun kini, anehnya semua terasa biasa, dan bahkan terkadang ‘mengasikkan’ buatku.

Sekedar aku ingin bercerita. Aku memiliki pengalaman buruk di masa kecilku yang membuatku berfikir sama atas semua mahluk yang bernama LELAKI !!!. dimataku, lelaki adalah buruk!. Aku katakan seperti itu karena hanya kesan menyakitkan dan traumatis saja yang bisa aku rasakan bila aku mengingat sosok yang satu ini dan bila mengenang masa laluku. Sedih bila aku terkadang harus membuka lagi semua kenangan itu. Saat aku melihat disana ada lebam-lebam kebiruan di kening dan tangan ibuku, hasil dari ... ah sudahlah. Singkatnya, dimataku semua lelaki sama. Hanya bisa menyakiti hati lembut wanita yang tulus menyayanginya.. setelah mereka dapatkan apa yang mereka mau. Apalagi kalau bukan sekedar pemenuhan hasrat birahi mereka saja. Tapi, setelah itu hanya pencampakan.

Sialnya, setelah semua seakan hampir bisa aku lupakan, karena aku sedah cukup dewasa untuk lebih bijak memaknai itu. Diluar dugaan, aku sendiri yang kini justru mengalaminya. Seperti yang aku ceritakan sebelumnya, aku pernah tinggal di rumah kerabatku pada saat-saat awal aku pindah dari kota asalku. Awalnya semua berjalan biasa saja, di rumah kerabatku ini aku dianggap seperti anak sendiri. Setidaknya begitulah kesan awal yang aku rasakan. Di rumah ini tinggal sepasang suami istri dan seorang anaknya yang masih bersekolah TK. Sang suami (yang sering ku sebut dengan panggilan hormat ‘Paman’) dan istrinya ku panggil bibi. 

Paman Wen, begitulah biasa dia kupanggil. (nama lengkapya Wendi) Seorang Direksi salah satu Konveksi terkenal di kota B. Dia adalah pribadi yang menyenangkan dimataku. Dengan mata teduh khas seorang ayah, berpadu tutur kata bijak saat dia sering menasehatiku. Ditambah bila melihat penampilan fisiknya, sebenarnya mungkin belum pantas bila dia kupanggil Paman. Karena selain dia cukup tampan, tubuhnyapun atletis. Sungguh sempat membuat aku terpesona hingga, sesuatu itu terjadi.

Ceritanya, suatu hari aku sedang tidak ada jadwal kuliah pagi. Aku baru akan berangkat ke kampus sekitar jam 1 siang. Kurencanakan kunikmati pagiku ini dengan memutar beberapa DVD film yang kemarin kusewa dari tempat penyewaan DVD original di depan komplek rumahku. Aku menontonnya di ruang keluarga. Aku bisa leluasa menonton karena kebetulan bibiku tidak ada, sedang ada keperluan dengan teman-temannya, dan si kecil sedang sekolah. Jam 11 siang biasanya baru datang. oh nikmatnya, bisa santai fikirku. Karena biasanya bila ada bibi, aku pasti di suruhnya membantu memasak di dapur. Dan karena merasa tak ada siapapun, aku menonton DVD hanya dengan memakai hot pants jeans kesayanganku dan kaus tanktop belel yang sedikit longgar. Lebih nyaman rasanya.

Saat menonton, sempat aku menitikkan air mata menyaksikan adegan sedih di film itu. Hingga aku dikejutkan oleh suara ketukan pintu. Tok tok tok.. siapa di rumah? . oh suara Paman Wen ternyata. Aku baru ingat semalam dia tugas menerima pengiriman barang dari Luar negri. Dan kebetulan jam 9 pagi pulangnya. Karena memang merasa tak ada hal aneh menurutku, langsung aku beranjak dari sofa dan kubukakan pintu untuk Paman. 

Saat pintu kubuka, kulihat wajah lelah Paman sambil seperti menahan kantuk. Capek rupanya Paman Wen fikirku. Namun saat itu aku sadar untuk beberapa saat Paman sempat melirik ke bagian payudaraku, yang setelah aku lihat memang agak menyembul keluar dari tanktop. Mungkin karena tadi terpengaruh posisi rebahanku saat menonton DVD film di sofa. Sedetik kemudian aku betulkan tanktopku hingga kini sudah kembali rapi dan ‘tertutup’. Lalu aku persilahkan Paman untuk masuk.

Setelah di dalam, sambil menurunkan tas dan merebahkan badan di sofa ruang tamu, Paman bertanya, pada kemana Tin?. Bibi lagi keluar Paman, ama bu Merry katanya ada perlu, kujawab. Dan aku kembali ke sofa untuk meneruskan menonton. Sesaat tak ada apa-apa yang terjadi, karena setelah itu Paman Wen bergegas langsung masuk ke kamar. Langsung istirahat sepertinya.

Sekitar setengah jam kemudian. Saat sedang serius menikmati adegan yang terpampang di televisi, aku dikagetkan oleh tepukan di bahuku dari arah belakang. Sesaat aku terperanjat. Namun cepat hilang ketika sejenak kemudian aku menoleh, dan memang, itu sentuhan tangan Paman. Dia lalu menghampiriku, dan duduk di sebelahku. Tanpa aku sedikitpun risih karenanya. Karena sekali lagi, Kufikir memang tak ada yang aneh.

Untuk beberapa menit, tak ada sepatah katapun terlontar dari bibir kami. Hingga akhirnya,.. gimana kuliahnya Tin? Paman Wen mengawali pembicaraan. Emmh.. baik Paman. Kataku. Kamu masuk siang hari ini? Dia kembali bertanya. Iya Paman, ntar siang baru ada mata kuliah. Makanya bisa nyantai. Gpp ya Paman klo Martina nonton DVD disini? Tanyaku. Nyantai aja Tin, gpp kok.. Paman juga suka nonton film. yang penting klo nonton disini filmnya yang ada warnanya ya.. jangan sampe biru. Hahaha. Jawab Paman sambil bercanda. Selanjutnya obrolan kami makin seru dan topik pembicaraannya pun beragam. Mulai dari tentang perkuliahanku, kampung halaman kami, dan sampai ke topik update gossip artispun kami bicarakan. Hmmmh..., sungguh pribadi yang menyenangkan Paman Wen ini. Bathinku. Karena saat ngobrol, Paman memang terlihat cerdas. Terlihat dari tutur katanya. Dan entah kenapa, lelaki cerdas seperti Paman, sangat terlihat ‘seksi’ dimataku! Tapi, upz.. kubuyarkan lamunanku yang mulai ngaco. Buru-buru kusadarkan bahwa... tak boleh Martina.. tak boleh.. , gumamku dalam hati.

Tak terasa waktu sudah mendekati pukul 11. Sebentar lagi si kecil Jeremy akan pulang sekolah. Dan seolah mengingatkan. Bentar lagi kayaknya si Adek (begitulah biasanya Jeremy kupanggil) pulang ya Paman..? kataku. Oh iya ya.. Ya udah deh, kamu terusin aja nontonnya. Paman mau istirahat dulu. Jawab Paman Wen. Dan diapun beranjak menuju ke kamar. Namun sesaat setelah itu, ada hal yang membuatku salah tingkah karenanya. Sesaat sebelum masuk kamar dia sempat berkata padaku.. Tin, kapan-kapan mau gak klo kita nonton? Katanya. Hah! Sesaat aku sedikit kaget. Apa? Nonton? Maksudnya.. Nonton seperti apa.. di bioskop maksudnya? Berdua? Atau.. apa?. Bathinku lagi. Namun, entah kenapa tiba-tiba setelah itu langsung kujawab. Iya Paman. Dan sambil tersenyum manis, dengan wajah yang sangat cute khas laki-laki dewasa muda umur 31 Tahun, Paman Wen menatapku, dan lalu masuk ke kamarnya. Menebarkan pesona yang tak mampu kujelaskan. Oh My God.. kenapa hatiku berdebar.. kenapa pipiku serasa memerah.. ada apa ini... apa mungkin..

Setelah kejadian itu, hubunganku semakin ‘aneh’ dengan Paman Wen. Aku selalu salah tingkah dan berdebar bila bertemu dan berada di dekatnya. Tapi, feelingku diapun merasakan hal yang sama. Karena naluriku bisa merasakannya. Tapi, karena ada bibi, aku berusaha menepiskan semua itu. Aku tak mau menjadi duri dalam daging di keluarga ini. Walaupun, meredam gejolak rasa ini, sungguh sangat sulit untukku. Tapi aku harus bisa. Dan sebenarnya aku diuntungkan dengan kondisi rumah ini, karena disini aku tinggal di lantai dua, di satu kamar yang cukup luas dan nyaman, yang didalamnya sudah ada televisi. Jadi, aku tak perlu sering-sering turun kebawah untuk sekedar ingin menyaksikan acara-acara favoritku di ruang keluarga. Dan berarti cukup mengurangi intensitas pertemuanku dengan Paman Wen. Juga kebetulan memang karena tugas pekerjaanya yang banyak menyita waktu, jadi semakin kecil kemungkinan kami untuk bertemu. Dan untuk sementara.. clear.

Namun kerasku untuk ‘menipu diri’ ternyata sia-sia. Karena begitu mudahnya pertahananku jebol. Karena ceritanya, suatu hari saat di kampus sekitar pukul 2 siang. Saat aku sedang makan di kantin Teh Yana langgananku. Menyantap gado-gado yang kupesan pedas. Tiba-tiba HP ku berbunyi. Sms masuk rupanya. Dan ohh Tuhan.. dari Paman Wen. Isinya: lg dmn Tin..? pulang jam berapa hari ini?. Tak berapa lama, tanpa berfikir jauh kubalas : lg d kampus Paman. Martina plg sktar jam 4. Msh ada 1 Mat Kul lg. Tp ga tw ada dosennya apa ga? Ada apa Paman?.

Cukup lama tak ada balasan lagi. Lalu sekitar 10 menit kemudian, kembali ada sms masuk, dan memang dari Paman Wen, kali ini isinya : Tin, mau ga nonton sore ini? Beres km kuliah. Klo mau jam stngah 6 nnti, Paman tunggu di 21 P*st^ur. Gmn?. Gila, bukan main senangnya aku dibuatnya. Langsung kubalas: iya Paman, tar jam stengah 6 ketemuan dsna.

Setelah tak sabar ingin cepat-cepat sore. Bahkan kalau boleh jujur, saat Pak Umar dosenku menyampaikan materi. Sudah tak konsen aku dibuatnya. Akhirnya setelah mata kuliah usai. Langsung ku bergegas keluar kampus, kutuju halte. Dan berharap cepat ada bus tujuan kota B disana. Karena kau ingin cepat-cepat bertemu Paman ku sayank. Biarkan.. mungkin aku memang sudah salah minum obat, dan.. gila. Gila karena sensasi cinta buta. Cinta pada Paman Wen. Yang tak lain adalah kerabatku sendiri. Orang yang pantas kuhormati, sebagai figur penggganti orang tuaku disini. Tapi biarlah. Duniaku sudah terlanjur dibuaikan gelora.

Singkat cerita, akhirnya aku sampai di depan tempat janjianku di P*st*ur. Disana kejauhan kulihat Paman Wen berdiri di depan Otlet waralaba ayam goreng. Dia masih mengenakan stelan pakaian kerjanya, namun ditutupi oleh jaket di atasnya. Ohh.. gantengnya Pamanku ini. Bathinku. Lalu setelah bertemu, kamipun langsung melangkah menuju 21. Memilih film. dan langsung membeli tiket. Kami sepakat untuk memilih film horror asia. Dan kami juga memilih tempat duduk pojok paling atas. Tempat duduk yang lazimnya bagi sepasang kekasih yang selain ingin menikmati film, juga ingin menikmati... nikmatnya bercumbu. Tapi memang itulah kenyataannya. Kamu sudah seperti terbuai, walaupun tak terucap. Namun kami saling bisa merasakan kata hati masing-masing.

Dan filmpun dimulai, kamipun juga sudah duduk di tempat yang kami pesan. Adegan demi adegan mulai mengalir di depan layar. Kamipun hanya terdiam menikmati. Hingga akhirnya. Saat di film sedang ada adegan sepasang kekasih sedang masyuk setengah bercumbu. Kusadari, tiba-tiba tangan Paman merayap menelusuri pahaku. Awalnya aku sedikit terkejut. Namun, karena jujur, aku menikmatinya. Jadi kubiarkan saja. Sambil tetap mataku menatap ke depan seolah-olah berkonsentrasi pada film. padahal. Jantungku berdegup.. hatiku berdesir. Melihat reaksiku yang diam saja, tangan Paman mulai berani mulai lebih nakal. Kurasakan tangan itu mulai bergerilya menuju perutku, mulai beranjak keatas, dan.. seperti hendak meraba dadaku yang saat ini terbungkus t-shirt ketat motif bunga yang sedang ngetrend saat ini. Saat itu. Sejenak kucoba tepiskan tangannya. Namun justru, tiba-tiba.. disentuh dan diraihnya jemariku. Di genggamnya dengan mesra. Paman menatap mataku dengan penuh arti.. lalu dia berucap, Martina.. maafin Paman. Paman sayang sama Martina. Dan dikecuplah keningku dengan lembut. Oh Tuhan.. aku bahagia. Aku sangat bahagia mendengar kalimat itu terucap dari bibirnya. Dan, seperti terbawa kata hati, langsung akupun berucap, iya Paman gak apa-apa, Martina juga sayang sama Paman.. sayang banget.

Setelah sama-sama mengungkapkan perasaan, dengan lembut, kinipun kami saling mendekatkan wajah.. deru nafasnya dapat kurasakan. Seperti sudah lama menahan hasrat. Kedua bibir sepasang manusia yang tengah mabuk cinta ini, kini bertemu. Kamipun berciuman. Kami saling berpagut liar. Lidah kami saling memilin. Uuh... ahhh...emmh.. air liur kami saling bertukar. Saat seperti itu, tangan kamipun seperti sudah tak tertahan untuk ingin saling meraba, menjamah, meremas... ohh.. kurasakan tangan Paman sudah mulai merayap menelusup kedalam bajuku. Mengelus-elus seperti hendak mencari gundukan susuku yang dari tadi sudah mengeras. Cepatlah Paman, jamah aku, raba aku Paman.. terserah kau mau apakan.. aku rela.. nafsuku sudah menderu. Tak berapa lama, kurasakan tangan lembut Paman makin berani naik ke atas. Dan akhirnya menelusup ke dalam BH renda merah milikku. Di raihnya daging hangat nan kenyal didalamnya. Ohh, nikmatnya. Kini aku semakin berani untuk meminta dijamah. Iya Paman.. pegang Paman.. Tina udah pengen... emmhh.. enaknya.. , celotehku sudah tak karuan. 

Melihatku semakin bernafsu, Tangan Paman makin berani dan nakal untuk bermain-main di bukit kembarku nan indah. Dipilin-pilin kecil putingku. Kini puting merah muda itu sudah sangat tegang berharap juga untuk dijilati. Tanpa memikirkan rasa malu lagi, dan juga karena situasi yang sangat gelap khas film horror. Tentu ini sangat memudahkan kesempatan kami untuk bercumbu semakin liar. Kini kuangkat sendiri t-shit ku ke atas. Kubuka klip pengait BH ku, kugapai dan kuusap wajah Paman Wen. Seolah dia mengerti. Saat kubuka kain penutup susuku ini, dan kemudian terpampang dua buah bukit kembar nan indah. Sepasang bukit yang ranum, bulat, dan montok. Dihiasi puting merah muda nan menggoda. Kuperhatikan untuk sesaat Pamanku sayank melongo takjub dibuatnya. Takjub atas pemandangan yang begitu menggairahkan hasrat kelelakiannya. Dan, tanpa kuminta, sambil tetap kusentuh pipinya. Didekatkannya bibir Paman ke arah susuku. Lalu, emmph.. kini putingku telah di lumatnya. Tak bisa kugambarkan betapa nikmatnya perlakuan Paman Wen terhadapku. Aku hanya bisa mengerang , akkkhh.. emmmhh.. emmppphh. Digigit-gigitnya kecil, dan semakin membuat geli nikmat itu menjalar di sekujur tubuhku. Dan saat itu akupun tak mau tinggal diam. Kujambak-jambak halus rambutnya. Sambil tetap susuku dijilati.. tanganku mulai meraba-raba mencari apa yang tersembunyi di balik sleting celana Paman. 

Tak sulit untuk mencarinya, karena saat kuraba, terasa batang kelelakian Paman Wen sudah sangat mengeras. Sepertinya butuh bantuanku untuk menyenangkannya. Oohh.. aku semakin nakal. Kucari-cari sabuknya, kubuka. Kutarik sletingnya, lalu kuturunkan. Dan seakan juga berharap lebih. Dengan sedikit gerakan mengangkat pinggul, dengan tanganku, kubantu Paman untuk memelorotkan sedikit celana kerjanya. Dan akhirnya kini celana dalam itu sudah terlihat. Kulirik dengan senyum birahi. Tanpa berlama-lama. Langsung kugapai kontol yang sedari tadi sudah sangat aku dambakan. Kuraih apa yang tersembunyi dari balik celana dalamnya. Oommh.. besar dan panjang kurasa. Aku bayangkan betapa nikmatnya bila benda berurat ini memasuki dan mengaduk-aduk liang senggamaku. Aku mau.. sangat ingin disetubuhi, karena seingatku terakhir kali aku melakukannya adalah satu kelas 2 SMU di kamar kost pacarku. Namanya Denny. Dan kalau tidak salah, itu sudah terjadi 1 tahun 8 bulan yang lalu! Dan kini aku kembali rindu untuk bercinta. Rindu untuk dijamah, dan haus untuk ditindihi laki-laki. Walaupun kenangan dengan mantan pacarkupun cukup menyakitkan. Karena setelah kuberikan tubuhku. Ternyata dia mengkhianatiku, saat kupergoki dia sedang bergumul bersenggama dengan sahabatku. Dikamar kostnya. Di kamar tempat yang sama saat aku menyerahkan diriku, cinta suci, dan kenikmatan di sela-sela kedua paha mulusku. 

Padahal apa kurangnya aku, bisa dikatakan aku adalah primadona di sekolahku dulu. Dengan selalu mengenakan stelan seragam atasan ketat yang dua kancing atasnya sengaja kubuka, serta rok ketat 5 cm di atas lutut. Jelas membuatku terlihat sangat sintal dan seksi. Tak terhitung berapa cowok yang ingin memacariku. Bahkan ada satu orang guru yang sempat menyatakan perasaannya padaku. Tapi, nyatanya mantanku lebih memilih untuk berselingkuh, daripada mempertahankan cintaku, dengan segenap ‘servis lebih’ yang setiap saat siap kuberikan bila ia memintanya. Seperti terkadang tiba-tiba dia memintaku untuk berjongkok meng’oral’nya di lantai 2 ruang kelas 2.7 yang sedang di ronovasi. Itupun dengan senang hati selalu kuturuti. Atau sekedar minta kontolnya untuk dijepit oleh kedua gundukan susuku yang besar nan kenyal saat pulang sekolah di kamar kostnya. Berbekal baby oil yang memang selalu tersedia dikamarnya, untuk pelumas sebagai penambah kenikmatan servis singkatku. Itu seperti sudah rutinitas harian bagiku untuk memuaskannya. Apalagi terkadang gilanya mantanku adalah bila sedang pejuhnya menumpuk seperti sudah menuntut untuk disemprotkan, tak segan ia juga meminta layanan seks yang sebenarnya. Ya.. benar-benar seks. Kontolnya menikmati liang senggamaku. Dan itupun kuturuti atas nama cinta. Namun untuk layanan seks full job ini, tak bisa sering-sering kuberikan. Karena aku takut resikonya. Takut aku sampai hamil. Takut bila kami tak bisa mengendalikan diri, untuk menumpahkan air mani saat dia klimaks, hanya di susu atau di mulutku saja. Namun untungnya sampai saat ini tak pernah ada janin yang sempat hadir di rahimku, akibat perbuatan birahi mantanku itu.

Tapi sudahlah, biarkan saja. Toh sekarang, saat ini, aku sedang bersama Paman Wen-ku sayank.. sedang berasyik masyuk menikmati untai-demi untai peluh birahi kami. Saat ini, genggam tanganku semakin lembut mengelus-elus sembari memberikan rangsangan mengocok pada kontol Paman yang gagah berurat. Kurasakan deru nafasnya semakin tak beraturan menahan nikmat. Sembari tetap menjilati dan mengemuti susuku. Namun, tiba-tiba rangsangannya pada putingku dihentikannya. Sesaat aku sedikit kaget dan kecewa. Karena nafsuku sedang naik-naiknya dan aku mau terus tetap dijilati, bahkan berharap semakin liar. Namun dengan tatapan meminta, dan akupun mengerti apa yang diinginkannya. Ditariknya kepalaku, dan diarahkannya kepalaku ke kontolnya yang sudah mengacung hebat, yang sudah keluar dari celana dalamnya. Tanpa sedikitpun aku menolak, juga karena aku mau. Kudekatkan bibirku ke kepala penis nan bulat menggoda itu. Kucium ujungnya.. emmhh, aroma khas yang sangat bersensasi. Sejurus kemudian lidahku mulai menari-nari menelusuri kontol itu. Kujelajahi dari ujung hingga pangkalnya, naik turun, kubasahi dengan air liurku. Lidahku seakan menari-nari saat itu. Dan kurasakan Mangci semakin menggelinjang. 

Namun kini sepertinya kontol itu sudah tak tahan untuk di servis lebih lagi oleh bibir sensualku. Ditekannya kepalaku lebih dalam dari ujung lalu..lhhppp. kontol itu kini sudah masuk sepenuhnya di mulutku. Dalam keadaan seperti itu, kurasakan tangannya juga tak mau diam saja. Kini tangan itu sudah mnggerayang rok babydoll-ku, mulai menyingkapnya keatas. Namun sepertinya akal sehatnya masih sedikit tersadar, walau sudah dalam kondisi sangat On. Dilihatnya keadaan sekelilingku. Dirasa aman. Karena memang kebetulan jam tayang saat ini agak kosong. Dan bangku paling atas memang tak penuh terisi. Hanya di ujung yang lain terlihat terisi. Itupun sepertinya juga oleh sepasang kekasih yang juga sedang.. bercumbu. 

Setelah dirasa aman, dilepaskannya jaket yang dari tadi melekat di badannya. Rupanya jaket itu di letakkan di atas pahaku, sebagai penutup. Supaya aksi gerilyanya bisa leluasa. Benar saja, kini setelah tertutup oleh jaket, tangan Paman lebih leluasa untuk menyingkap lagi rokku ke atas. Dan tak perlu lama, langsung tangannya menelusup lebih dalam ke CD ku, seperti mencari-cari apa yang ada di dalamnya.

Lubang sengamaku sedari tadi telah basah oleh cairan lendir cinta. Kini mungkin akan semakin basah lagi karena, kurasakan jari-jari Paman Wen liar menjelajahi dan memainkan setiap titik rangsanganku. Yang membuat gelora birahiku semakin meninggi. Klitorisku disentuhnya, labia ku dirabanya, dan itilku pun tak lepas dimainkan. emmmmh... aakkhh.. Rintihku. Hingga kurasakan semakin basah rongga-rongga kewanitaanku itu dibuatnya. Jari-jari nan lembut itu terasa sedikit mengoyak ketika kurasa liang senggamaku seperti hendak dimasuki. Kugigit kecil bibirku menahan nikmat sensasi lain yang kini kurasa. Dan iya, setelah itu dengan bernafsu. Di kocok-kocoknya memekku dengan jari Paman. Entah sudah berapa kali jari itu keluar masuk di dalamnya. Tak terhitung kiranya. Sungguh nikmat sekali bercumbu seperti ini. Bahkan kalau boleh jujur sempat tadi aku lumer dibuatnya. Diperlakukan memekku seperti ini. Siapa yang tahan.. eemmmhh, Hingga setelah sekitar 10 menit berlalu.. Paman berbisik padaku..

Sayank, Paman udah di ujung... dah geli nih yank..., bisiknya. Emmmppp... sllluurpp... llppphh..., aku tetap mengoralnya, justru semakin liar dan bersemangat. Semakin kutekan kontol itu kedalam.. hingga sampai ke pangkal teggorokanku. Biarkan saja fikirku. Geli dan seru juga bathinku, melihat ekspresi lucu Paman yang sudah memerah sembari memejamkan mata seperti menahan sesuatu yang mau meledak. 

Yank.. Martina sayank.. udah mau keluar nih.. , katanya. Tetap tak kupedulikan, bahkan semakin kupercepat permainan bibir sensualku terhadap kontolnya!. Dan, benar saja. Tak seberapa lama kurasakan ada yang menyambur di dalam mulutku.. creett.. creettt.. creettt..., cairan kental nan hangat yang agak asin. Emmmh.. nikmat sekali rasanya. Cukup banyak sepertinya Paman menyemprotkan sperma di mulutku, karena sensasi denyutannya kurasa lebih dari lima kali semburan. Entah sudah berapa hari sepertinya pejuh ini tak disemprotkan ke memek bibiku. Bathinku nakal. Kubiarkan beberapa detik kami dalam posisi seperti ini. Sembari sekali kulirik wajahnya yang tampak sangat puas. Bagaimana tidak, saat ini dia sedang menyemburkan sperma di bibir sensual seorang gadis yang teramat seksi dan menggairahkan di mata semua lelaki. Dan yang terpenting.. gadis itupun mencintainya. Layanan seks dengan cinta tentu akan terasa jauh lebih nikmat. Dan gadis itu adalah .. aku.

Setelah kurasa kontol Paman mulai agak melemas, perlahan dengan gerakan menarik ke atas, kutarik bibirku, dan.. plup! Sambil tersenyum padanya kuperlihatkan bibirku yang saat ini masih menampung luapan spermanya. Kutatap matanya dengan sangat dalam, lalu, dengan tanpa rasa jijik, kutelan sperma itu didepannya. Dan aku tersenyum sambil kuraih jemarinya. Saat itu aku berucap, aku sayang kamu..

Seperti tak mampu berkata-kata, dibelainya rambutku, dilapnya sedikit leleran sperma yang masih tersisa di bibirku dengan jarinya. Lalu kamipun berpelukan dengan sangat erat. Seperti tak mau terpisahkan.

Tanpa terasa filmpun berakhir. Dan kamipun harus tersadar dari permainan panas yang baru saja kami lakukan. Kulihat dari layar blackberry-ku. Waktu saat itu menunjukkan pukul 20.15. Waduh.. sudah malam ya yank. Kataku pada Paman. Kini aku mulai berani untuk memanggilnya dengan panggilan sayang itu. Setelah kami merapihkan pakaian kami yang acak-acakan karena pergumulan tadi, kami langsung keluar 21, berjalan kearah halte dan pulang. Lalu Paman Wen berkata, Tina sayank.. kita sekarang pulang bareng, tapi ntar klo udah nyampe S, kamu pulang kerumah duluan aja ya. Kayak ga ada apa-apa. Ntar aku mau ke rumah temenku dulu. Biar kita kesannya ga habis keluar bareng.. takut bibi curiga. Tadi aku udah bilang dapet shift lembur, gantiin temenku yang sakit. Begitu kata Paman Wen padaku saat di bus. Iya sayank. Balasku. Dan aku memahaminya.

Setelah kejadian malam itu, hubungan asmara terlarangku dengan Paman Wen semakin erat dan mesra. Tak jarang kami sengaja mencuri-curi waktu untuk sekedar bermesraan. Untuk tempatnya bisa di 21, hotel, atau kost-an salah satu temen kuliahku yang sudah soulmate. Cukup dengan bermodal muka memelas dan dua porsi martabak, kunci pintu kamar kostnya sudah dipinjamkan padaku. Dan pastinya sudah bisa ditebak. Kugunakan untuk bercumbu.. saling menjamah.. saling meraba.. menjilat.. dan akhirnya kami pun melakukan hubungan intim. Seks yang pastinya sangat liar karena dalam diri kami memang dipenuhi hasrat birahi yang menggebu-gebu. Seperti selalu rindu. Tapi pastinya itu kami lakukan bila Paman bisa beralasan ada lembur atau ada shift tambahan mendadak. Indahnya cinta itu kami reguk bersama, dengan sangat indahnya dan tentu sangat berkesan bagiku. Hingga..

Suatu hari, aku lagi-lagi sedang tak ada jadwal kuliah pagi. Dan kebetulan bibi juga sedang arisan dengan sesama ibu-ibu dari tempat kerja Paman Wen. Bibi pergi dari tadi pukul 7.30 dengan menggunakan taksi pesanan, dengan membawa serta si kecil Jeremy yang hari ini sengaja tak masuk sekolah. Bibi bilang padaku untuk jangan lupa memasak untuk makan siang. Karena mungkin bibi pulang agak sore, karena sekalian mau belanja bareng sama ibu-ibu arisan ke Mal M. Kesempatan bathinku untuk bersantai, sekalian menunggu pangeranku sayank pulang kerja. Nanti sekitar pukul 9. Tanpa berharap terjadi apa-apa sih... karena masak iya mau melakukan ‘hal itu’ di rumah. Geli juga bathinku.

Setelah puas bersantai di depan TV sambil menonton acara gossip artis, aku putuskan untuk mulai memasak. Sengaja pintu depan tak kukunci, takut sewaktu-waktu pangeranku pulang. Aku naik ke atas untuk berganti pakaian dengan kaus terusan panjang berwarna putih, namun seksi karena hanya sedikit menutupi pahaku. Bisa dipastikan bila aku sedikit saja membungkuk, celana dalam merah seksi ber-renda-ku pasti terlihat menyembul dengan bongkahan pantat montok yang tersembunyi dibaliknya. Aku tak mengenakan pakaian bawahan apa-apa lagi. Karena biar leluasa memasak fikirku. Dan memudahkan bila harus bolak-balik jongkok berdiri saat mengolah makanan. Namun mungkin terselip juga niatan nakalku untuk sedikit menggoda Paman Wen saat dia datang nanti. Lucu juga membayangkan ekspresi mukanya bila melihatku berpakaian seperti ini. Padahal selama ini toh semua lekukan tubuh putih mulusku telah dilihatnya. Namun tetap aku berniat menggodanya. Biar saja, dia khan kekasihku.

Kusetel salah satu koleksi CD musikku di CD player. Ku setting dengan volume suara agak keras sebagai penambah semangat saat aku memasak. Karena beat musiknya sangat oke. Saat itu aku berencana memulai masak sop ayam dengan perkedel kentang. Itu sesuai arahan bibi dan dengan bahan yang sudah dari tadi pagi dibelinya, dari Mamang Umar Sayur, langganan kami. Mungkin karena saking seriusnya memasak, atau karena suara musik yang kencang. Tanpa kusadari sudah cukup lama mungkin, ternyata Paman Wen sudah pulang, langsung masuk ke rumah karena melihat pintu tak terkunci, berdiri sambil memperhatikanku memasak. Ehmm.. ehmm, si cantik lagi masak. Sapaannya mengagetkanku. Lalu aku menoleh, emmmh.. chayankku udah pulang. Sambutku mesra padanya. Lalu dia beranjak menghampiriku dan memelukku dari belakang. Aduh senangnya hatiku. Sempat aku membayangkan, andaikan saja aku yang jadi nyonya di rumah ini, dan saat ini aku sedang menyambut suamiku ini pulang kerja. Hayo.. kok diem? Ngelamunin apa hayo..., kata Paman, sambil tetap memelukku dari belakang. Cukup membuyarkan lamumanku. Emmh.. chayank.. lagi masak sayur sop ama perkedel nih yank. Jawabku. 

Dia tak menanyakan kemana yang lain, kenapa rumah kok sepi. Karena mungkin dia sudah tahu. Lalu dengan manjanya dia kecup bibirku lembut. Masih sempat kumatikan kompor, kubalikkan badanku, dan kubalas dengan ciuman yang panas. Iih... nafsu ya si cantikku ini..., katanya menggodaku. Kutatap manja sambil kujawab. Iya nih yank.. abis gara-gara nyium aroma badan kamu jadi horny bgt nih.. gimana donk..?. sambil kugesek-gesekkan pahaku di pangkal pahanya yang sudah mengeras, walaupun masih tertutup celana. Bisa kupahami, mungkin sedari tadi saat memperhatikanku dari belakang dengan pakaian menggoda seperti ini, sudah pasti hasrat kelelakiannya muncul. Ayank mau..? kataku lagi. Dia hanya menganggukkan kepala tanda iya.

Lalu kamipun berpagut lagi, kini semakin liar dan panas, tangan kanannya menggerayangi susuku, meremas-remasnya gemas dan semakin berani untuk menelusupkan tangannya dari bawah bajuku, hingga kini, kaus terusanku ini tersingkap hingga ke atas. Segera di raihnya bongkahan daging besar nan montok, yang sangat disukainya ini. Secepat kilat, BH-ku telah dilepaskannya dengan sekali menarik tali simpul, karena saat ini aku memang sedang memakai salah satu koleksi bra seksiku, berwarna merah menyala, yang jenisnya memang hanya berpengikat tali. Pasti sangat memudahkannya untuk segera menikmati isi di dalamnya. Dan benar saja setelah terlepas, dia segera meraih kausku, menariknya keatas hingga terlepas, dan setelah itu giliran BH ku yang terlucuti olehnya. Hingga.. Kini, aku adalah perempuan hampir bugil, yang hanya menyisakan g-string yang melekat di tubuhku. Sedang berdiri di depan seorang lelaki yang amat kucintai. Sesaat lagi, kembali akan kuserahkan tubuh ini padanya, untuk dijamah dan dinikmati lagi, demi menunjukkan betapa dalam rasaku ini padanya. 

Tak sekejappun matanya berkedip melihat pemandangan indah yang kini terpampang jelas di hadapannya. Walaupun telah sering dia melihatnya, namun karena begitu indah, tetap saja membuatnya takjub. Dengan tubuh jenjangku tanpa busana, dihiasi dua bongkah payudaraku yang besar nan montok, yang seolah menantang untuk disentuh. Serta dengan siluet sempurna lekukan tubuhku dari leher hingga ke pinggul yang amat menggoda. Semua ini jelas membuat laki-laki normal manapun diam membatu terpana. Termasuk sayankku ini.

Tak seberapa lama, mungkin juga tak ingin menyia-nyiakan tawaran kenikmatan ini. Kini, tangan kanannya mulai beraksi kembali, cepat diraihnya susuku untuk diraba dan diremas-remasnya, sambil sesekali putingku di pilin-pilinnya. Uuuhh.. geli sekali rasanya, namun pastinya bercampur nikmat bagiku. Sementara tangan kirinya berusaha meraih pantatku, lau setelah dapat, langsung juga diremas-remasnya penuh nafsu. Entah kenapa sayangku ini terlihat begitu bergairah hari ini.. 

Kami saat itu saling menyentuh, meraba, dan meremas. Akupun tak mau diam saja. Kuusap-usap dan kuelus kontolnya dari balik celana yang masih menempel. Namun dapat kurasakan, batang kelelakian itu semakin mengeras saja. Dalam kondisi itu, kami juga tetap berciuman panas. Lidah kamu berpagut saling menari-nari liar beradu. Hanya suara desahan .. emmmhh.. aakkh... emmmpppp.. oohh, yang bisa mewakili suasana saat itu. Semuanya seolah berbaur seirama dengan birahi yang sudah semakin memuncak. Tangan kami saling bergelayut, hembus nafas kami semakin memburu rasanya.

Akhirnya dia tersadar sejenak. Foreplay liar ini telah membuat keringat di tubuh kami bercucuran deras. Dia mengusap keningku yang penuh peluh. Sambil berucap, sayank.. didalem aja ya.. dikamar depan. Katanya. Lalu kujawab, Dimana yank?, masa di kamar depan, tar kalo.., buru-buru bibirku ditahannya saat hendak meneruskan bicara, dengan satu jari telunjuknya secara halus. Gak apa-apa sayank, khan mamahnya Jeremy (dia menyebut istrinya) juga paling tar sore baru pulang.., ujarnya lagi. Yakin yank...? gpp? Kataku. Dan tanpa di jawab lagi, dengan sekali senyuman mautnya, dia langsung mengangkat tubuhku, dan membopongnya menuju ke kamar utama. Walaupun sebenarnya saat dibopong menuju kamar itu, hati ku tetap sedikit bimbang, bukan karena apa, hanya saja dihatiku masih menyisakan was-was, takut-takut tiba-tiba..., namun, ah sudahlah demi menyenangkan sayankku, aku turuti saja. Sambil berharap semoga tak ada...

Kini kami sudah berada di kamar utama, kamar tempat peraduan cinta sayankku dengan bibi. Kamar yang untuk sesaat sebentar lagi akan menjadi kamar pengantin kami. Kamar tempat kami memadu cinta dan menggelorakan birahi kami. Sempat sekali lagi terbersit dalam bathinku.. andaikan saja.. duh, senangnya. Lalu kecupannya di bibirku membuyarkan hayalan gila itu lagi. Hmmhh... ngelamun lagi ya sayank.. katanya. Dan aku hanya tersenyum.

Diturunkannya aku dengan sangat hati-hati di ranjang. Dibimbingnya tubuhku dengan penuh kasih sayang.. hingga kini kami saling duduk berhadapan di ranjang itu. Kulihat senyum manis kembali tersungging di bibirnya. Dan akupun membalas senyuman itu, sambil berkata, Tania sayang ayank... dan kusentuh jemarinya dengan lembut.

Kulihat dia masih mengenakan pakaian lengkap seragam kerjanya, melihatnya seperti itu, dan juga karena naluriku untuk melayaninya. Kini aku berinisiatif untuk melepas pakaiannya. Kupindahkan posisiku turun dari ranjang. Agak berlutut. Dengan telaten kubuka satu-persatu kancing bajunya. Setelah itu kaus dalam putih itupun turut kulucuti dengan pelan dan halus. Sesaat aku berbisik sambil menggodanya.., celananya mau dibuka juga ga Tuan..?, dan kulihat dia hanya tersenyum menahan geli, namun sambil mengguk, tanda iya. Setelah itu kubuka sabuknya, kuraih resletingnya, kuturunkan, dan lalu celana itu kutarik perlahan kebawah hingga terlepas. Dan aku langsung berdiri. Lagi-lagi kugoda sayankku ini. Udah ya Tuan, khan udah dibuka... permisi Tuan, saya mau kembali ke dapur. Mau masak lagi. Reflek dia berkata., nah lho... kok? Lha.. cahayaaank.. kok udah sih? Khan celana dalamnya belum.. iih, ayank jahat tau. Ujarnya.

Melihat muka kekasihku ini manja sembari meminta sesuatu yang lebih. Dan memang tadi aku hanya menggodanya. Uuuh.. cahayank.. ganteng dech klo ngambek. Kataku. Dan setelah itu langsung kuraih celana dalamnya dan kupelerotkan hingga.. barang yang amat aku sukai di dalamnya kini terlihat jelas mengacung hebat. Berdiri tegak. Seakan siap untuk digunakan mengoyak-ngoyak liang kenikmatanku, yag sedari tadi sudah agak licin akibat pelumas yang meleleh saat tadi foreplay di dapur. Langsung aku duduk kembali di ranjang tepat disisinya. Kupatap dengan tatapan nakal.. lalu, kupeluk tubuhnya. 

Sambil berpelukan, kamipun kembali berciuman penuh nafsu. Bibir kami beradu, lidah kami saling berpilin kembali.. kurasakan bibir bagian bawahku ditarik-tariknya dengan lembut saat berciuman. Tak mau kalah, kubalasnya dengan permainan lidah yang lebih erotis. Lidahku kumainkan di rongga atasnya, menari-nari menjelajahi sudut bibirnya. Seraya sesekali kukulum dengan lembut. Sambil tetap berciuman liar, kini direbahkannya tubuhku di ranjang. Tak lepas pagutan bibir kami karena perpindahan posisi itu.. tangannya kini makin leluasa untuk menjamah susuku yang tegak keatas bersentuhan dengan dadanya yang bidang. Hangat kurasa menjalar di seluruh tubuh ini. Tangan lembut itu, kurasakan dengan lihai bermain-main di daerah rangsanganku.. mulai dari tepi hingga akhirnya putingku tak lepas di sentuhnya. Sesekali perutkupun ikut disentuh, namun dengan cepat kembali tangan itu menikmati gundukan hangat putih nan menggairahkan milikku. Memilin-milin putingnya.

Aka hanya bisa menggelinjang menahan nafsu yang semakin menderu. Dilepaskannya pagutan bibir kami olehnya. Sembari kepala itu kini bergerak kebawah. Dan benar saja. Kini putingku dilahapnya penuh nafsu.. dijilatinya seperti anak kecil yang sedang menyusu. Dia terlihat selalu bergairah dan terobsesi dengan payudaraku ini, termasuk kali ini. Walaupun bila aku jujur.. rasanya ubun-ubunku sudah mau meledak menahan birahi karena perlakuannya. Namun kubirkan saja, toh memang bagiku, segenap raga dan hati ini, kini adalah miliknya. Aku pasrahkan saja untuk dinikmati sesuka hatinya. Lelaki yang amat kusayangi.

Cukup lama sepertinya dia bermain-main dengan susuku. Hingga tiba-tiba kurasakan permainan di sekitar dadaku itu terhenti, lalu kepala sayanku kurasakan bergerak lagi turun kearah pusar. Berhenti sesaat disitu.. dia menciumnya. Mencium pusarku, sekali mengecup, menjilat, tak terlalu lama. Lalu terus bergerak kembali kebawah hingga..., tak perlu terlalu lama, vaginaku telah dilumatnya. Dijilatinya klitorisku, sembari tangannya tetap meremas-remas susuku. Kurasakan labia mayora-ku juga tak luput dari sergapan bibirnya yang lembut. Sedikit ditarik-tarik. Dilepaskan.. diemut lagi, ditarik lagi.. aaahhh, perlakuan yang sungguh membuatku terbang.. nikmat sekali rasanya. Tak sedikitpun terlihat dia akan menghentikan permainan lidah dan bibirnya di daerah paling sensitifku itu. Bila aku tidak salah.. aku sudah sempat lumer kala itu. Namun tak kukatakan. Tapi sepertinya dia tahu aku keluar, karena sempat terdengar dan kurasakan.. slluuurrpp. Sepertinya cairan cintaku dilahap dan ditelannya. Oh sayank, kau apakan aku.. aku sangat nafsu yank...
Setelah aku biarkan dia bermain-main, dan aku hanya bisa mendesah-desah tak karuan.. aaahhh.. emmmpph... ayo yaaank.. teruus.. emmmph.. hanya ocehan itu yang kuingat saat dia memainkan liang senggamaku. Kini, giliranku.

Kusentuh rambutnya.. sedikit kuangkat kepalanya hingga kini terlihat wajahnya olehku.. kuberkata padanya. Gantian ya sayank..,. tak perlu lama, kutarik tubuh kekasihku keatas, kubalikkan badannya, dan kubuat dia terlentang. Saat itu kukerlingkan mataku dengan tambahan senyuman binal padanya. Nikmatin yaa sayank, bathinku.

Kepalaku kini kuarahkan kedadanya.. dan lalu, langsung kujilati seluruh badan kekasihku. Kenyalnya toketku kubiarkan berayun-ayun di sekitar kontolnya. Memberikan rasa hangat nan mengasikkan buatnya. Lidahku mulai bermain menjilati lehernya.. turun kembali ke dada, kugigit-gigit kecil putingnya, hingga dia sedikit menggelepar. Kutahu dia sedang menikmati permainan cumbuanku. Permainan lidahku kulanjutkan semakin kebawah. Keperutnya, pusarnya, hingga, saat ini bibirku sudah tepat berada di kepala penisnya. Tak perlu menunggu, langsung kukecup, dan kujilati kepala penis bulat nan indah itu. Air liurku kubiarkan melumer mengalir di batang berurat, aku sengaja supaya tambah memberikan sensasi lain. Tak terlewat, kedua bolanya-pun tak luput dari servis bibir dan lidahku. Bahkan hingga ke arah lebih bawah lagi. aku sangat menikmatinya. Karena ada sesuatu kepuasan buatku, saat sesekali kulihat muka kekasihku ini terpejam menahan nikmat sambil meringis dan berdesah. Emmhh... uuuhh..., kudengar. Naik turun kepalaku bergerak seiring dengan keluar masuknya kontol itu di mulutku. Kuluman lembut erotis yang pastinya membuat kekasihku mabuk kepayang menahan gelora. Suara slluurpp... mmmppph.. sllluurrp, serasa mendominasi. Semakin menambah panasnya suasana bercinta kami. Hingga dalam keadaan masih terlentang, sayankku sedikit menggangkat badannya, dan menatap kearahku yang sedang meng’oralnya’. sambil berkata, sayank... masukin ya.. udah ga kuat nih.

Mendengar permintaan dari kekasihku, akupun langsung menurutinya, aku beranjak, kuarahkan tubuhku kedekatnya. Dengan posisi dia masih terlentang, kini aku naikkan tubuhku tepat di atas tubuhnya. Aku mengangkang di pahanya, sembari mengusap-usap liang senggamaku, memastikan bahwa memekku sudah basah, dan siap untuk dimasuki benda kesayanganku. Setelah kupastikan cukup basah, kini kuposisikan tubuhku mengangkang lebih keatas lagi, dan saat ini posisi bibir memekku sudah tepat searah dengan kontol kekasihku. Kugenggam lembut batang itu, kuarahkan kepalnya yang bulat, kuoles-oleskan dulu di bibir memekku. Dan kulihat ekspresinya sudah tak tahan ingin segera memulai persenggamaan yang sesungguhnya. Melihat muka kekasihku yang sudah sangat galau dan bernafsu, pelan-pelan kini kuturunkan tubuhku seiring dengan masuknya kontol itu ke liang senggamaku. Sleeepp... sleep, pelaaan.. dan bless. Tenggelamlah sudah kini kontol itu di sangkar kenikmatan. Kurasakan sesaat. Ingin kunikmati kesan sensasi tusukan pertama yang begitu nikmat. Sangat mentok dan dalam. Hingga tanpa sadar aku berkata. Ooohh.. emmmh.. enak bgt yank.., kulihat iya hanya mengangguk menikmati juga. Setelah beberapa saat kunikmati rasa itu, kini mulai kuayunkan tubuhku keatas .. kebawah.. , naik turun, seirama dengan goyangan toketku yang bergelantungan bebas berharap untuk diraih oleh tangan kekasihku, dan di remasnya. Pasti akan menambah sensasi dan semangatku untuk ‘menggoyangnya’. Benar saja, tanpa kusuruh, atau mungkin dia memang tergoda dengan keindahannya, kini diraihnya sepasang daging kenyal nan montok milikku itu, dan diremas, dimainkannya. Aku tak mengurangi goyanganku di atas tubuhnya, justru aku semakin bergelora, kini kugerakkan pinggul dan pantatku maju mundur.. hingga menghasilkan suara sleepp.. sleep.. , aaahhh.. emmmhh. Ohh,, aahh... ayank.. emmmh, ocehku bersamaan dengan gerakanku yang semakin cepat. Dalam posisi ini, kurasakan g-spotku sangat tersentuh oleh ujung kepala kontolnya. Dan jelas sangat membuatku menggila, merasakan sensasi nikmat birahi yang teramat sangat. 

Sesekali kukombinasi gerakan pinggulku dengan gerakan memutar seperti penari goyang karawang yang melegenda, kumaju mundurkan lagi, kuputar lagi... begitu bergantian ku merangsangnya, menservis kekasihku dengan layanan kenikmatan terbaik yang bisa kuberikan. Namun dengan posisi itu, justru nyatanya... setelah sekitar 10 menit.. kurasakan ada yang akan meladak di tubuh bagian bawahku, di area pangkal pahaku, dan benar saja. Seiring gerakanku yang kupercepat.. aaakkkkhhh.. aku kelonjotan sendiri diatas tubuh kekasihku. Kurasakan sensasi hebat, kutarik-tarik rambutku, kumainkan dengan tak karuan. aku klimaks sayank.. aku sampai.. emmmh...,bathinku. 

Akupun tertelungkup di dadanya. Dengan kontolnya yang masih menancap di memekku. Lemas rasanya setelah merasakan klimaks untuk yang kedua kalinya. Namun kulihat kekasihku hanya tersenyum, sambil nafasnya tetap menderu. Dapat kurasakan karena wajah kami sedemikian dekatnya. Entah apa yang difikirkan kekasihku ini, mungkin dia puas bisa membuatku lumer dua kali sejauh ini. Fikirku. Dan dia masih bertahan. Tapi biarlah, yang penting aku sangat menikmati sensasinya.

Tak berapa lama aku berada di posisi itu. Tubuhku kini sedikit diangkat dan dibalikkan olehnya. Kini aku terlentang. Dan dia sudah memposisikan tubuhnya untuk akan segera..., dan benar saja, sesaat kemudian dibukanya kedua kakiku melebar.. aku mengangkang di depannya. Terlihat liang senggamaku kembali berhadapan dengan batang kontolnya yang masih sangat tegak berdiri. Dan tak lama. Sleep.. sleep. Bless ! kontol itu kembali menghujam memekku. Kali ini agak keras hentakannya. Hingga aku agak tersentak, sekaligus merasakan sensasi nikmat, karena lagi-lagi g-spot ku tersentuh.

Kocokannya lalu dimulai, dengan gerakan pinggul maju mundur, kontol berurat itu kini leluasa menikmati liang kenikmatanku yang sudah becek. Plok.. plok..plok... suaranya terdengar halus. Nikmat sekali rasanya, apalagi dengan gerakan andalannya. Sesekali dia memain-mainkan aku.. tusukannya tak beraturan.. kadang hanya sampai kepala.. ditarik lagi.. dimasukkan hanya setengah.. ditarik lagi.. lalu tiba-tiba menghujam dahsyat tanpa bisa aku perkirakan.. aaakkkhh.. oh yeeees. Emmmhh.. ohh.., ocehku karena perlakuannya itu. Bagaimana tidak, sensasinya sangat berbeda dan membuatku menggila. Kamu memang hebat sayank.. gumamku dalam hati. Plok.. sleepp... plok... sllleppp.. , masih terasa dan terdengar mengiringi persenggamaan kami. Lalu..
Kocokan itu sesaat dihentikannya, dimiringkan tubuhku.. lalu dikocoknya lagi... ya ampuuun.. eeemmhpp.. makin terasa sentuhan dan gesekan antara kulit kelamin kami, dalam posisi itu. Karena dengan posisis kedua kakiku beradu ke arah samping, pastinya lubang memekku akan ikut menyempit. Dan pastinya itu akan menambah lagi sensasi nikmat untuk kami. 

Tak seberapa lama, tanpa mengurangi kecepatan kocokannya yang sudah dari tadi membuatku menggelinjang, dia ubah lagi posisi menyampingku ke arah sebaliknya. Dan tetap dikocoknya terus miaw-ku olehnya. Hingga tiba-tiba iya berkata, namun sambil tetap menusuk-nusuk lubang memekku, ayank angetnya... emmmh..., bisiknya saat itu. Dan memang iya, jujur kuakui lagi-lagi aku klimaks. Namun aku hanya terdiam dan tersenyum.

Kemudian, dengan sedikit gerakan, iya mencabut kontolnya dari memekku, diangkatnya tubuhku yang telah lemas ini, di posisikannya menungging, dan iya.. ditusukkannya lagi kontol itu ke memekku dengan posisi kami kini ber-doggystyle. Dalam posisi ini leluasa dapat kulihat dari cermin meja kosmetik milik bibiku di kamar itu. Dia sedang mengentotiku dengan sangat bernafsu. Maju mundur gerakan pantatnya terlihat olehku seiring dengan sensasi tusukan yang tak berkurang rasa nikmatnya.. ooh.. yess.. aaahhh.. sayank...,

Di raba-rabanya pantat dan punggungku dengan tatapan mata kagum. Mungkin karena keindahan bentuknya. Rambut hitam tebal layer-ku pun tak luput dari fantasi seksnya. Rambutku yang tadi tergerai bebas di punggung mulusku, kini diraihnya. Seolah dia kini adalah seorang joki yang sedang naik menunggangi kudanya yang berbody aduhai. Emmh.. sayaank... kamu cantik banget sih yank... emmh... , ocehnya tak karuan kudengar. Kubiarkan saja dia menikmati tubuhku dalam posisi ini. Karena aku yakin pasti sangat nikmat baginya. Menyetubuhi gadis putih mulus nan sintal sepertiku dari arah belakang. Plok.. plok..plok, suara syahwat saat dua kelamin kami beradu-pun semakin lantang terdengar. Karena mungkin memekku sudah semakin lumer, dan lumer lagi akibat tusukan kontolnya.

Kekasihku ini masih sangat bernafsu saat.. kurasakan ia merubah posisi bercinta kami kembali ke gaya konvensional. Ya, kini aku kembali terlentang dan mangangkang membuka pahaku lebar-lebar. Mempersilahkan kekasihku untuk kembali memasukkan batang kelelakiannya ke dalam lubang senggamaku. Dan benar saja, tak lama kemudian, bless. Kembali kontol itu terbenam di memekku. Namun kali ini kutahan pantatnya agar iya untuk sesaat tak bisa mengocokku. Bukan karena apa. Karana saat ini akan kuberikan sensasi servis lain untuknya. 

Kutarik pantat kekasihku lebih merapat lagi ke tubuhku. Hingga kini tubuh kami berdua berhimpit sangat erat. Dalam posisi seperti itu, kontolnya-pun menjadi terbenam sangat dalam. Sesaat lagi akan kubuat dia merem melek. Pastinya. Karena setelah itu, langsung kumainkan rongga didalam liang senggamaku. Kuatur bergerak seiring dengan tarikan nafas dan perut yang tertahan-terlepas secara beraturan. Ya. Kubuat sensasi menyedot dan berdenyut untuk kontolnya yang sedang terbenam dalam. Emmpph.. hufft.. empph.. huft. Hasil latihan senam seks dan kegel-ku ini pastinya membuatnya tak kuasa menahan kenikmatan. Dan itu terlihat dari ekspresi mukanya. Matanya sesekali terpejam dan deru nafasnya makin tak karuan. Huuhh.. emmhh... kudengar. Dan benar saja, tak terlalu lama setalah itu. Langsung ditepiskannya tanganku dari pantatnya. Dan dia langsung mengocok lagi memekku dengan hebat. Kali ini bahkan kurasakan jauh lebih cepat dan cepat lagi.. yess.. emmmh.. fuck honey.. come on.. fuck me ! kataku. Nikmat sekali rasanya.

Dan beberapa saat kemudian, untuk sesaat kocokannya terhenti. Dia membungkuk mendekatkan wajahnya ke arah wajahku. Lalu dia berbisik. Ayank.. aku dah mau keluar..

Kubalas dengan tatapan sayang pada kekasihku ini, sambil berkata lembut padanya. Ya udah sayank.. keluarin aja di dalem, kayaknya aku lagi gak subur.. keluarin aja yank. Mendengar jawabanku seperti itu, kulihat sinar cerah diwajahnya. Dan, kini iya kembali mengocokku dengan cepat.. sangat cepat, hingga entah tanpa aku sadari mungkin aku sudah lumer lagi tadi. Plok.. plok.. plok.. , suara itu beriring beradu dengan ohhh.. yeess.. ayo sayank.. ayo.. fuck me.. sayank.. emmh, ocehku.

Hingga akhirnya. Crettt.. creettt.. crettt.., aakkhhh... teriaknya bersamaan dengan tersemburnya pejuh hangat nan kental itu di memekku. Benar-benar nikmat yang teramat sangat kurasakan saat itu. Diapun lemas menjatuhkan tubuhnya diatasku sambil memelukku. Ku tahan pantat itu lebih lama lagi. Aku ingin benar-benar menikmati moment intim seperti ini. Tak terbayangkan sebelumnya, klo akan sangat nikmat seperti ini bila dikeluarkan di dalam.

Tubuh kami masih bersatu saat iya tersadar dari klimaksnya dan berbisik padaku.. sayank, tadi enak banget. Iya sayank.. enak banget. Kataku membalas ucapannya. Dikecupnya keningku sambil rambutku dibelainya. Dan dia berkata, aku sayang kamu..

Kali ini tak kujawab. Karena tak perlu kuucapkan. Dia pasti sudah dapat merasakan apa kata hatiku. Karena dari hati yang paling dalam, akupun sangat menyayangi dia.

Kini iya terlentang tepat disampingku. Dan aku memeluknya. Memeluk erat. Kudekap tubuhnya. Hingga dapat kurasakan kehangatan itu. Lalu setelah cukup lama kemudian, aku berbisik padanya, ayank, udah yuk. aku mandi dulu ya kebelakang, takut keburu bibi dateng..

Ntar dulu sih yank.. sini aja, masih lama kali mamahnya Jeremy  pulangnya. Ucapnya padaku. Dan dia malah menarik bed cover lebih keatas lagi. Aku merasakan nyaman saat itu. Atau karena memang aku kelelahan setelah bercinta barusan. Dan kamipun terlelap tertidur pulas di ranjang itu. Masih tanpa selembar kainpun. Ya, kami masih telanjang di balik hangatnya bed cover ini. Hingga tanpa kami sadari, karena terlalu terlelap tidur...

Kreeeekkkkk.... brakk !!!! apa-apaan ini !!! kalian ngapain???, Dan kamipun terperanjat terkejut. Ya. Bibiku datang lebih cepat dari perkiraan kami. Ternyata setelah arisan meraka sepakat langsung pulang dan tidak jadi berbelanja bersama.

Ya ampuunnn Papaaaah...!!! Martinnna!!! Sialan kamu!!! 

Itu yang masih terngiang olehku hingga kini. Kata-kata pahit yang sangat menusuk hatiku. Namun harus aku terima karena ini adalah kesalahanku. Telah merenggut cinta Paman Wen atas istrinya. Maafkan aku...Bibi, maafkan aku...