Selasa, 29 Januari 2013

Ngentot Pedagang Pecel Ayam


 http://utak-atik.com/sites/default/files/138.jpg?1327506421
Pada waktu itu aku pulang dari kampus sekitar pukul 20:00 karena ada kuliah malam. Sesampainya di tempat kost, perutku minta diisi. Aku langsung saja pergi ke warung tempat langgananku di depan rumah. Warung itu milik Ibu Mila, umurnya 30 tahun. Dia seorang janda ditinggal mati suaminya dan belum punya anak. Orangnya cantik dan bodynya bagus. Aku melihat warungnya masih buka tapi kok kelihatannya sudah sepi. Wah, jangan-jangan makanannya sudah habis, aduh bisa mati kelaparan aku nanti. Lalu aku langsung masuk ke dalam warungnya. “Tante..?” “Ehhh. Dik Tony, mau makan ya?” “Eee.. ayam gorengnya masih ada, Tante?” “Aduhh.. udah habis tuch, ini tinggal kepalanya doang.” “Waduhh.. bisa makan nasi tok nich..” kataku memelas. “Kalau Dik Tony mau, ayo ke rumah tante. Di rumah tante ada persediaan ayam goreng. Dik Tony mau nggak?” “Terserah Tante aja dech..” “Tunggu sebentar ya, biar Tante tutup dulu warungnya?” “Mari saya bantu Tante.” Lalu setelah menutup warung itu, saya ikut dengannya pergi ke rumahnya yang tidak jauh dari warung itu. Sesampai di rumahnya.. “Dik Tony, tunggu sebentar ya.


Owwww iya, kalau mau nonton TV nyalakan aja.. ya jangan malu-malu. Tante mau ganti pakaian dulu..” “Ya Tante..” jawabku. Lalu Tante Mila masuk ke kamarnya, terus beberapa saat kemudian dia keluar dari kamar dengan hanya mengenakan kaos dan celana pendek warna putih. Wow keren, bodynya yang sexy terpampang di mataku, puting susunya yang menyembul dari balik kaosnya itu, betapa besar dan menantang susunya itu. Kakinya yang panjang dan jenjang, putih dan mulus serta ditumbuhi bulu-bulu halus. Dia menuju ke dapur, lalu aku meneruskan nonton TV-nya. Setelah beberapa saat. “Dik.. Dik Tony.. coba kemari sebentar?” “Ya Tante.. sebentar..” kataku sambil berlari menuju dapur. Setelah sampai di pintu dapur. “Ada apa Tante?” tanyaku. “E.. Tante cuman mau tanya, Dik Tony suka bagian mana.. dada, sayap atau paha?” “Eee.. bagian paha aja, Tante.” kataku sambil memandang tubuh Tante Mila yang tidak bisa diungkapkan oleh kata-kata.

Tubuhnya begitu indah. “Dik Tony suka paha ya.. eehhmm..” katanya sambil menggoreng ayam. “Ya Tante, soalnya bagian paha sangat enak dan gurih.” kataku. “Aduhh Dik.. tolong Dik.. paha Tante gatel.. aduhh.. mungkin ada semut nakal.. aduhh..” Aku kaget sekaligus bingung, kuperiksa paha Tante. Tidak ada apa-apa. “Nggak ada semutnya kok Tante..” kataku sambil memandang paha putih mulus plus bulu-bulu halus yang membuat penisku naik 10%. “Masak sih, coba kamu gosok-gosok pakai tangan biar gatelnya hilang.” pintanya. “Baik Tante..” lalu kugosok-gosok pahanya dengan tanganku. Wow, begitu halus, selembut kain sutera dari China

 “Bagaimana Tante, sudah hilang gatelnya?” “Lumayan Dik, aduh terima kasih ya. Dik Tony pintar dech..” katanya membuatku jadi tersanjung. “Sama-sama Tante..” kataku. “Oke, ayamnya sudah siap.. sekarang Dik Tony makan dulu. Sementara Tante mau mandi dulu ya.” katanya. “Baik Tante, terima kasih?” kataku sambil memakan ayam goreng yang lezat itu. Disaat makan, terlintas di pikiranku tubuh Tante Mila yang telanjang. Oh, betapa bahagianya mandi berdua dengannya. Aku tidak bisa konsentrasi dengan makanku.

 Pikiran kotor itu menyergap lagi, dan tak kuasa aku menolaknya. Tante Mila tidak menyadari kalau mataku terus mengikuti langkahnya menuju kamar mandi. Ketika pintu kamar mandi telah tertutup, aku membayangkan bagaimana tangan Tante Mila mengusap lembut seluruh tubuhnya dengan sabun yang wangi, mulai dari wajahnya yang cantik, lalu pipinya yang mulus, bibirnya yang sensual, lehernya yang jenjang, susunya yang montok, perut dan pusarnya, terus vaginanya, bokongnya yang montok, pahanya yang putih dan mulus itu. Aku lalu langsung saja mengambil sebuah kursi agar bisa mengintip lewat kaca di atas pintu itu. Di situ tampak jelas sekali. Tante Mila tampak mulai mengangkat ujung kaosnya ke atas hingga melampaui kepalanya.

Tubuhnya tinggal terbalut celana pendek dan BH, itu pun tak berlangsung lama, karena segera dia melucutinya. Dia melepaskan celana pendek yang dikenakannya, dan dia tidak memakai CD. Kemudian dia melepaskan BH-nya dan meloncatlah susunya yang besar itu. Lalu, dengan diguyur air dia mengolesi seluruh tubuhnya dengan sabun LUX, lalu tangannya meremas kedua susunya dan berputar-putar di ujungnya.

Kejantananku seakan turut merasakan pijitannya jadi membesar sekitar 50%. Dengan posisi berdiri sambil bersandar tembok, Tante Mila meneruskan gosokannya di daerah selangkangan, sementara matanya tertutup rapat, mulutnya menyungging. Beberapa saat kemudian.. “Ayo, Dik Tony.. masuk saja tak perlu mengintip begitu, kan nggak baik, pintunya nggak dikunci kok!” tiba-tiba terdengar suara dari Tante Mila dari dalam. Seruan itu hampir saja membuatku pingsan dan amat sangat mengejutkan. “Maaf yah Tante. Tony tidak sengaja lho,” sambil pelan-pelan membuka pintu kamar mandi yang memang tidak terkunci. Tetapi setelah pintu terbuka, aku seperti patung menyaksikan pemandangan yang tidak pernah terbayangkan. Tante Mila tersenyum manis sekali dan..

 “Ayo sini dong temani Tante mandi ya, jangan seperti patung gitu?” “Baik Tante..” kataku sambil menutup pintu. “Dik Sony.. burungnya bangun ya?” “Iya Tante.. ah jadi malu saya.. abis Tony liat Tante telanjang gini mana harum lagi, jadi nafsu saya, Tante..” “Ah nggak pa-pa kok Dik Tony, itu wajar..” “Dik Tony pernah ngesex belum?” “Eee.. belum Tante..” “Jadi, Dik Tony masih perjaka ya, wow ngetop dong..” “Akhh.. Tante jadi malu, Tony.” Waktu itu bentuk celanaku sudah berubah 70%, agak kembung, rupanya Tante Mila juga memperhatikan. “Dik Tony, burungnya masih bangun ya?” Aku cuman mengangguk saja, dan diluar dugaanku tiba-tiba Tante Mila mendekat dengan tubuh telanjangnya meraba penisku. “Wow besar juga burungmu, Dik Tony..” sambil terus diraba turun naik, aku mulai merasakan kenikmatan yang belum pernah kurasakan.

“Dik Tony.. boleh dong Tante liat burungnya?” belum sempat aku menjawab, Tante Mila sudah menarik ke bawah celana pendekku, praktis tinggal CD-ku yang tertinggal plus kaos T-shirtku. “Oh.. besar sekali dan sampe keluar gini, Dik Tony.” kata Tante sambil mengocok penisku, nikmat sekali dikocok Tante Mila dengan tangannya yang halus mulus dan putih itu. Aku tanpa sadar terus mendesah nikmat, tanpa aku tahu, penisku ternyata sudah digosok-gosokan diantara buah dadanya yang montok dan besar itu.

“Ough.. Tante.. nikmat Tante.. ough..” desahku sambil bersandar di dinding. Setelah itu, Tante Sari memasukkan penisku ke bibirnya, dengan buasnya dia mengeluar-masukkan penisku di mulutnya sambil sekali-kali menyedot, kadang-kadang juga dia menjilat dan menyedot habis 2 telur kembarku. Aku kaget, tiba-tiba Tante Mila menghentikan kegiatannya. Dia pegangi penisku sambil berjalan ke arah bak mandi, lalu Tante Mila nungging membelakangiku, sebongkah pantat terpampang jelas di depanku.

“Dik Tony.. berbuatlah sesukamu.. kerjain Tante ya?!” Aku melihat pemandangan yang begitu indah, vagina dengan bulu halus yang tidak terlalu lebat. Lalu langsung saja kusosor vaginanya yang harum dan ada lendir asin yang begitu banyak keluar dari vaginanya. Kulahap dengan rakus vagina Tante Mila, aku mainkan lidahku di klitorisnya, sesekali kumasukkan lidahku ke lubang vaginanya. “Ough Sonn.. ough..” desah Tante Mila sambil meremas-remas susunya. “Terus Son.. Tonn..” aku semakin keranjingan, terlebih lagi waktu kumasukkan lidahku ke dalam vaginanya ada rasa hangat dan denyut-denyut kecil semakin membuatku gila. Kemudian Tante Mila tidur terlentang di lantai dengan kedua paha ditekuk ke atas.

 “Ayo Dik Tony.. Tante udah nggak tahan.. mana burungmu Ton?” “Tante udah nggak tahan ya?” kataku sambil melihat pemandangan demikian menantang, vaginanya dengan sedikit rambut lembut, dibasahi cairan harum asin demikian terlihat mengkilat, aku langsung menancapkan penisku di bibir vaginanya. “Aoghh..” teriak Tante Mila. “Kenapa Tante..?” tanyaku kaget. “Nggak.. Nggak apa-apa kok Ton.. teruskan.. teruskan..” Aku masukkan kepala penisku di vaginanya. “Sempit sekali Tante.. sempit sekali Tante?” ” Nggak pa-pa Ton.. terus aja.. soalnya udah lama sich Tante nggak ginian.. ntar juga enak kok..” Yah, aku paksa sedikit demi sedikit, baru setengah dari penisku amblas. Tante Mila sudah seperti cacing kepanasan menggelepar kesana kemari.

“Ough.. Son.. ouh.. Son.. enak Ton.. terus Ton.. oughh..” desah Tante Mila, begitu juga aku walaupun penisku masuk ke vaginanya cuman setengah tapi kempotannya sungguh luar biasa, nikmat sekali. Semakin lama gerakanku semakin cepat, kali ini penisku sudah amblas dimakan vagina Tante Mila. Keringat mulai membasahi badanku dan badan Tante Mila. Tiba-tiba Tante Mila terduduk sambil memelukku dan mencakarku. “Oughh Ton.. ough.. luar biasa.. oughh.. Tonn..” katanya sambil merem melek. “Kayaknya aku mau orgasme.. ough..” penisku tetap menancap di vagina Tante Mila. “Dik Tony udah mau keluar ya?” Aku menggeleng, kemudian Tante Mila terlentang kembali. Aku seperti kesetanan menggerakkan badanku maju mundur, aku melirik susunya yang bergelantungan karena gerakanku, aku menunduk, kucium putingnya yang coklat kemerahan.

Tante Mila semakin mendesah, “Ough.. Tonn..” tiba-tiba Tante Mila memelukku sedikit agak mencakar punggungku. “Oughh.. Tonn.. aku keluar lagi..” Vaginanya kurasakan semakin licin dan semakin besar, tapi denyutannya semakin kerasa. Aku dibuat terbang rasanya.

Ah, rasanya aku sudah mau keluar. Sambil terus goyang, kutanya Tante Mila. “Tante.. aku keluarin di mana Tante..? Di dalam boleh nggak..?” “Terseraahh.. Toonn..” desah Tante Mila. Kupercepat gerakanku, burungku berdenyut keras, ada sesuatu yang akan dimuntahkan oleh penisku. Akhirnya semua terasa enteng, badanku serasa terbang, ada kenikmatan yang sangat luar biasa. Akhirnya kumuntahkan laharku dalam vagina Tante Mila, masih kugerakkan badanku dan rupanya Tante Mila orgasme kembali lalu dia gigit dadaku, “Oughh..” “Dik Tony.. Tonn.. kamu memang hebat..” Aku kembali mangenakann CD-ku serta celana pendekku. Sementara Tante Mila masih tetap telanjang, terlentang di lantai.

 “Dik Tony.. kalo mau beli makan malam lagi yah.. jam-jam sekian aja ya..” kata Tante Mila menggodaku sambil memainkan puting dan klitorisnya yang masih nampak bengkak. “Tante ingin Dik Tony sering makan di rumah Tante ya..” kata Tante Mila sambil tersenyum genit. Kemudian aku pulang, aku jadi tertawa sendiri karena kejadian tadi. Ya gimana tidak ketawa cuma gara-gara “Ayam Goreng” aku bisa menikmati indahnya bercinta dengan Tante Mila.